Senin, 27 Maret 2017

Dalam Bingkai Semelo

Unknown

Foto : KH. Ahmad Munawwir

oleh: Muhammad Zaki Fahmi dan Lilik Maryanto*

“Ketika seseorang telah memantapkan hati untuk menjadi seorang hamba yang menjaga kalamNya. Tentunya ada tanggung jawab besar yang dipegangnya, yaitu dengan tetap istiqomah nderes Quran meskipun sudah hafal. Sebab hafalan bila tak pernah dibaca juga akan lupa. Begitu pula yang dilakukan oleh KH Ahmad Munawwir. Beliau senantiasa nderes supaya tetap terjaga hafalan Qurannya. Pun bukan sekedar hafal akan tetapi juga sudah menjadi tabiat bagi ahli Quran untuk mengamalkan apa yang ada dalamnya. Jadi pastilah beliau merupakan sosok yang istiqomah “.
  ******
Al ajru ‘ala Qodri Ta’bin, hasil itu sesuai dengan apa yang diusahakan. Mungkin ungkapan itulah yang cocok disematkan kepada sosok almarhum syaikhona KH. Ahmad Munawwir. Gus Mad, panggilan KH. Ahmad Munawwir, dikenal sebagai ahli Quran pada zamannya. Tentu tak sembarangan orang dapat mencapai maqom tersebut. Perlu usaha keras untuk sampai pada tahapan itu. Begitupun KH Ahmad Munawwir yang semasa muda, ketika itu berumur 21 tahun, berusaha keras menuntut ilmu di Jombang Jawa Timur.

Alif Lam Mim, Dzalikal Kitabu Laa Raiba Fih. Dua sahabat itu masih melantunkan ayat demi ayat dengan fashihnya.  Walaupun tanpa pengeras suara, nada-nada yang indah nan lembut itu terus menggema di seluruh sudut-sudut sebuah pondok pesantren yang masih sederhana itu. Merekalah dua penghafal Al Quran yang dipertemukan dalam satu ikatan yang kokoh. Tepatnya pada tahun 1958 M pertemuan itu terjadi. Sosok pemuda penghafal al Quran dari Krapyak datang nyantri kepada KH Umar Zahid, seorang Kyai karismatik di desa Semelo Jombang. Ya, di pondok Semelo (sekarang PP. Umar Zahid ) kisah persahabatan Gus Mad dan Kang Masduki* bermula.

Di kamar 1x2 meter, mereka mulai mengukir kisah. Hari-hari Gus Mad dilalui bersama dengan Kang Masduki. Gus Mad mengajak Kang Maduki nderes bersama. Hal ini dilakukan dengan cara membaca bergantian secara ayatan atau tiap satu ayat bergantian. Cara ini Gus Mad lakukan ¼ juz per minggunya. Selama 4 tahun Gus Mad melakukan semaan ayatan besama sahabatnya, sehingga dalam 4 tahun Gus Mad khatam 2 kali. Dan ketika khatam yang kedua, KH Masduqi Zein Jombang yang merupakan alumni Krapyak turut serta dalam mendoakan.

Meski Gus Mad seorang Ahli Quran, namun tak lantas puas diri dengan ilmu Qurannya. Bahkan Gus Mad juga masih haus akan ilmu yang lain seperti fiqih, tasawwuf, nahwu,dll. Di pondok Semelo,  Gus Mad belajar berbagai kitab kuning kepada KH Zahid. Kitab ibnu Aqil, Hikam, Khasyiyah Bajuri Gus Mad pelajari sampai khatam. Tak hanya di Semelo Gus Mad menuntut ilmu. Di Bandung Jombang, Gus Mad juga mengaji kitab Syatibi, sebuah kitab turots yang menjelaskan tentang ilmu Qiroah saba’ah. Jarak Semelo ke Bandung yang sekitar 25 km Gus Mad tempuh dengan naik sepeda. Jarak yang teramat jauh tak membuat Gus Mad malas untuk menuntut ilmu. Justru Gus Mad tetap semangat untuk tholabul ‘ilmi. Pun ketika tak ada kegiatan mengaji, Gus Mad senantiasa nderes hafalannya sehingga tak waktu yang sia-sia.

Di Jawa Timur khususnya Jombang semaan Quran dikenal dengan mudarosah. Gus Mad dan Kang Masduqi merupakan orang yang pertama kali melakukan mudarosah di Jombang bahkan Jawa Timur. Keduanya pertama kali melakukan mudarosah di pondok Semelo. Lama-kelamaan banyak orang yang datang ke Semelo untuk mendengarkan Gus Mad mudarosah meskipun pada waktu itu belum ada pengeras suara.

Pernah suatu ketika Gus Mad dijenguk oleh kakaknya, KH Abdul Qodir Munawwir. Sesuai kebiasaan di keluarga Al Munawwir Krapyak, KH Abdul Qodir mengajak Gus Mad untuk mudarosah di Ploso Kediri. KH Abdul Qodir naik becak dan Gus Mad bersama KH Masduqi naik sepeda. Ketika itu Gus Mad bertiga dijamu oleh tuan rumah dengan hidangan seekor kambing untuk bertiga. Akan tetapi, dibagikan oleh Gus Mad kepada tetangga sekitar.

Gus Mad semasa mondok di Semelo dikenal sebagai santri yang suka riyadloh. Gus Mad selalu puasa sebagai bentuk riyadlohnya. Pernah suatu ketika Kang Masduqi menanyakan perihal tersebut kepada Gus Mad. Kemudian dijawab oleh Gus Mad,” Kersane kulo tasih diparingi sehat”. Semoga saya (Gus Mad) masih diberi kesehatan. Bahkan selama nyantri pun Gus Mad tak pernah meminta kiriman dari keluarga di Krapyak.

Kemudian setelah KH Abdul Qodir Munawwir wafat, Gus Mad diminta oleh keluarga untuk kembali ke Krapyak. Di Krapyak, ilmu yang Gus Mad miliki sangat dibutuhkan. Terlebih sosok KH Abdul Qodir sebagai kiyai sepuh yang mengajarkan Quran di Krapyak telah wafat. Gus Mad pun mendapat mandat untuk mengajarkan Quran meneruskan perjuangan kakaknya. Berawal dari sinilah kisah Gus Mad sebagai seorang Kyai Ahli Quran pada masanya dimulai.

Ketika seseorang telah memantapkan hati untuk menjadi seorang hamba yang menjaga kalamNya. Tentunya ada tanggung jawab besar yang dipegangnya, yaitu dengan tetap istiqomah nderes Quran meskipun sudah hafal. Sebab hafalan bila tak pernah dibaca juga akan lupa. Begitu pula yang dilakukan oleh KH Ahmad Munawwir. Beliau senantiasa nderes supaya tetap terjaga hafalan Qurannya.Pun bukan sekedar hafal akan tetapi juga sudah menjadi tabiat bagi ahli Quran untuk mengamalkan apa yang ada dalamnya. Jadi pastilah Gus Mad merupakan sosok yang istiqomah.

Semoga kita termasuk dalam hambaNya yang istiqomah menjaga Al Quran.


*Kang Masduqi (KH Ahmad Masduqi AR ) merupakan pengasuh PP. Roudhotu Tahfidzil Qur'an Perak Jombang.
*Reporter LPS EL TASRIIH Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L

Minggu, 26 Maret 2017

LIBRA

Unknown
 Oleh : danang triantoro*
    Once upon a time in Houton town, there was a happy family. A father’s name was Thomas. A mother’s name was Cecilia. Thomas and Cecilia had a beautiful baby. No one knew about her pregnancy. Cecilia stayed in a special place when she was pregnant and went home with her baby. Many people said if the girl wasn’t her birth child. But whatever they said, Libra was Cecilia’s child.
The baby grew up normally. She became a nice smart beautiful girl. She grew like a little princess but she also grew as Thomas’s doll. She should do everything Thomas’s command. She should be a perfect person and don’t protest!
Libra and her friends always played in a small forest. It’s located near their houses. After school, they went to the forest and went home at 5 p.m. They played hide and seek, fishing in a small lake, riding bicycle and etc.
One day, when Libra was 10th years old, she played in the forest. She played hide and seek with her friends but what happened is…
“Hey, the ancient name! Catch us!” Laura called her.
“Ancient name… Ancient name….! Hahaha…” Her friends laughed.
“Hahaha… You aren’t Mrs. Cecilia’s child. You are her step-child,” Laura laughed. “How poor you are!”
“Hey! Laura, stop it! Are you a devil? You are so cruel!” the kindness Tiara said.
“That’s the reality! Her mother hid in a secret place when she was pregnant!” Laura angry and went away.
“Don’t be sad, Libra! Don’t care about them! You are Mrs. Cecilia’s child. I know that.” Tiara tried to make her happy.
“Okay. Don’t you want to go home? I think my mom is waiting me, now. ” Libra was very upset. She didn’t want anyone knew about her sadness.
“Let’s go home together!” Tiara said.
“Hem… My mother asked me to buy some ingredients. I think I should go to the market. I’m sorry I can’t accompany you,” Libra laid to Tiara.
“It’s okay. Be careful, Libra!” Tiara shouted and then run away
    Libra went home with the worst feeling she had ever felt. When she arrived, Mrs. Cecilia was waiting her in front of the door. Mrs. Cecilia had a bad feeling after looked her daughter’s face. ‘Something happened’ she taught.
“Libra! What has happened, dear? Are you crying?” Mrs. Cecilia asked.
“Oh, no I’m not, mom. I’m not crying. It just dusts.”
“Don’t lie, honey! I know you have a problem. Tell me! ”
“I’m a step-child, aren’t I? Laura said that. She is three years older than me. I think she knows that I don’t.”
“Libra, I’ll never lie to you. We are family and we don’t have any secret. You are my child, my birth child.”
    After that, Libra never asked about her status but she still confused. She never saw any photos of her mother’s pregnancy.
Four years later….
    Libra’s dad worked in the other country. Her mom and she still lived in Houton. Libra was studying in her room while her mother was knocking her room’s door.
“Libra… Libra… I got a telephone from your uncle. Your aunty felt down. Now, she is in Charles Hospital,” Mrs. Cecilia said.
“Let’s go to the hospital. Hurry up!” Mrs. Cecilia was crying and in hurry.
“Oh my God. Yes mom. I’ll be ready quickly. Wait me, mom.” Libra moved fast and changed her clothes.
    They went to the hospital. Aunty Clara was in Lavender room number 909 B. They searched for aunt’s room. There were so many rooms in Charles Hospital. The rooms were divided into some buildings. It made too difficult to find a room. They arrived to aunt’s room after 15 minutes hunting time.
“What happen with Clara?” Mrs. Cecilia asked.
“Cancer,” Uncle Fred said sadly.
“Oh The Mighty One. I can’t believe it.” Mrs. Cecilia shocked.
…to be continued…

*LPBA (Lembaga Pengembangan Bahasa Asing) Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L

Jumat, 10 Maret 2017

Acara Khotmil Qur’an Di Tutup Dengan Acara Temu Alumni

Unknown

 
Yogyakarta, (09/03) Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L telah melaksanakan resepsi khotmil qur’an bersamaan dengan HAUL al magfurllah kh. M. Mounawwir Bin Abdullah Rosyad yang ke-78. Acara ini diadakan setiap dua tahun sekali oleh pengurus Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L dengan runtutan acaran yang terangkum didalamnya. Acara ini dihadiri oleh wali santri yang mengikuti khataman, alumni dan tamu undangan.
Acara pucak dimulai dengan temu wali santri tepat pada pukul 09.30 WIB di Mushola Al Mubarok sampai pukul 12.00 WIB. Sesudah acaara tadi, sampailah pada acara puncaknya yaitu khotmil qur’an Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L tepat pada pukul 12.30 WIB. Dalam acara puncaknya 67 khotimin dan khotimat telah sukses mengikuti prosesi Khotmil Qur’an dengan khidmah.
Setelah wisudawan turun dari panggung utama, perwakilan wali santri memberikan sambutan untuk memaparkan kebanggaan yang sangat tinggi karena anak yang mereka titipkan ke Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L duduk manis di panggung utama dengan dilihat langsung oleh orang tuanya sendiri. Bukan kebanggan saja yang dipaparkan tetapi harapan kedepan semoga ilmu yang didapatkan oleh anaknya bisa bermanfaan nanti di masyarakat.
Tepat pada pukul 16.00, acara puncak selesai kemudian para wisudawan bisa istirahat sebentar menunggu acara selanjutnya dimulai. Setelah slola magrib 18.30 WIB dilanjutkan dengan temu alumni yang pada awalnya akan dilaksanakan di Mushola Al Mubarok tetapi dirubah pelaksanaannya mejadi di panggung utama tempat prosesi Khotmil Qur’an. Temu alumni ini menjadi acara penutup dalam kegiatan Khotmil Qur’an Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L.
Muhammad Imadudin selaku ketua panitia memaparkan bahwasanya pada malam hari terjadi pembludakan tamu tanpa disangka. Panitiapun kewalahan untuk mengatasinya mungkin disebabkan karena para tamu undangan sengaja untuk datang pada malam hari karena acara puncak di pusat yang di isi oleh ketua PBNU dilaksanakan. (lukim)


Jumat, 17 Februari 2017

Pemenang Kreasi Puisi Haul '78" KH M.Moenawir

sorcerer



Bukan 

aku adalah malam yang
menjadikan terangmu padam
aku adalah sebah yang
menjadikan laramu tumpah
aku adalah senja yang
menjadikan soremu sirna

bukan
aku adalah kopi yang
menjadikan tubuhmu hangat bersemi
aku adalah suara yang
menjadikan hidupmu bernada
aku adalah hujan yang
menjadikan rindumu berpijar dalam diam

Oleh : Rizal Fathurahman

Kamis, 26 Januari 2017

Sejarah dan Perkembangan

Unknown


Sejarah dan Perkembangan

            Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta didirikan oleh Hadlratusy Syaikh K.H. Moenawwir pada tanggal 15 November 1910. Sejak awal berdiri dan masa perkembangannya, pondok pesantren ini semula bernama Pondok Pesantren Krapyak, karena memang terletak di Dusun Krapyak. Pada tahun 1976-an, nama pondok ditambah dengan Al-Munawwir sehingga lengkapnya adalah Pondok Pesantren Al--Munawwir Krapyak Yogyakarta. Penambahan kata Al-Munawwir ini untuk mengenang pendirinya, yang wafat pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1360 H/6 Juli 1942 M. Selain itu, pondok pesantren ini juga terkenal sebagai pondok pesantren Al-Qur'an. Hal ini juga sesuai dengan keahlian beliau yang menjadi figur ulama besar ahli Al-Qur'an di Indonesia pada masanya dan hal inilah yang menjadi ciri khusus Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, yaitu penekanannya pada madrasah Al Huffadz dan pengajaran Qira'ah Sab'ah. Keahlian beliau di bidang Al Qur'an, khususnya Qira'ah Sab'ah, juga didukung dengan sanad yang sambung sampai pada Rasulullah melalui guru beliau Syaikh Yusuf Hajar.

            Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak mempunyai kurang lebih 2.000 santri yang tersebar dalam bermacam-macam komplek dan asrama. Salah satu kompleknya adalah Komplek "L". Nama lengkapnya adalah Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek "L" Krapyak Yogyakarta. Komplek ini diasuh oleh Almaghfurlah Syaikhuna K.H. Ahmad Munawwir yang memiliki 200 santri. Pada tahun 2001 Syaikhuna wafat dan diteruskan oleh istri beliau, Ibu Nyai Hj. Shofiyah Ahmad dibantu putra tunggal beliau yaitu K.H. Muhammad Munawwar Ahmad.

Selasa, 03 Januari 2017

Aku, Malam Tahun Baru di Komplek L

Rafii
Orang-orang beramai-ramai hanya ingin merayakan tahun baru 2017, Mereka antusias dengan senyuman yang sangat lebar, raut wajah bahagia seraya bergandengan tangan dengan teman . Mereka bersorak-sorak sambil memegang kembang api yang dibawa. Yogyakarta - Sabtu (31/12), Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L menyambut malam tahun baru dengan diadakannya acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Aku hanya duduk dengan kaki melipat diatas sejadah merah bergambarkan mesjid dengan bibir terkatup-katup lirih bersolawat kepada Nabi Muhammad SAW. Tahun ini adalah tahun istimewa, jarang terjadi ketika dua kalender masehi dan hijriah memiliki bulan yang istimewa secara bersamaan. Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan kelahiran Nabi Isa AS. kesempatan yang langka ini dijadikan moment yang berharga oleh Pengurus Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L untuk melangsungkan perayaan puncak maulid nabi yang bertepatan di malam tahun baru karena malam tahun baru sering dijadikan kesempatan oleh para santri, sebelumya cara ini sudah berlangsung selama 6 hari berturut-turut dengan pembacaan kitab maulid diantaranya al-barzanji, ad-diba’i hingga maulid simtudduror.  Aku bertanya-tanya, kenapa harus malam tahun baru yang dijadikan puncak acaranya. tapi aku menikmatinya karena rasa cinta ini kepadanya.

Malam ini sangat berbeda, langit indah dihiasi taburan bintang yang merata, udara sejuk, angin berhembus lirih seolah menyelaraskan tiupannya dengan lantunan sholawat dan iringan musik rebana yang menggema diatas langit Krapyak membuatku merasa sangat bahagia. Bahagia karena cinta kepadanya, cinta yang tak pernah surut seperti air dilaut lepas, tanah yang ada di bumi dan bintang diatas kepalaku. Ratusan santri khidmat merasakan nikmat yang menyihir rasa dalam hati mereka, hingga mereka lupa akan keramaian yang terjadi diluar sana.

Sesudah bersolawat, sempat aku dengarkan Mauidhoh Hasanah dari bapak zaenal arifin yang mengatakan bahwa “ meskipun sekarang bukan lagi bulan rabi’ul awal yang pada umumnya orang memperingati mauled nabi nanum kita harus menumbuhkan rasa kita kepadanya. Tidak hanya pada moment-mement  tertentu tetapi seyogyanya sebagai umat islam kita harus terus mencintai nabi Muhammad SAW dengan cara bershalawat tanpa dibatasi oleh waktu”.

Acarapun selesai tepat pada pukul 21.00 WIB. aku masih duduk bersama dengan wakil lurah Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L yaitu Khoirul Anwar dan Achmad Soib  teman kelas dipengajian kitab kuning. kami asik dengan perbincangan yang membahas tentang acara ini karena beda dari yang lain. Aku bertanya kepada kang anwar.

“Kang, malam tahun baru kok diadakan maulid nabi ?”.

“Ada yang berpendapan bahwa malam taun baru itu merupkan malam kegelapan dimana panggung-panggung kemaksiatan didirikan dan umat kanjeng nabi berjingkrak-jingkrak di atas bumi ini. Maka dari itu, perlu adanya suatu perubahan tradisi sedikit demi sedikit yang tadinya tahun baru itu diisi dengan kemaksiatan, hura-hura bahkan ada yang mabuk-mabukan kita mulai dari yang terkecil salasatunya di pondok kita sendiri yaitu pondok pesantren komplek L dengan merubah hal-hal negative menjadi positif yaitu dengan memperingati lahirnya kanjeng nabi Muhammad SAW.” jawabya  dengan kewibawaan yang tinggi.

“Iya kang. Tapi kan, bisa kita adakan selain malam tahun baru?”

“Pak kyai dawuh langsung bahwasanya bakal ada tamu dari alumni komplek L dan mereka mencari waktu yang tepat karena mayoritas beliau-beliau itu adalah sesepuh dan guru-guru yang notabene sibuk. makadari itu, pak kyai mengintruksikan supaya peringatan maulid nabi diadakan pada malam tahun baru.”

“Ooohh. Berarti ada sangkut pautnya dengan alumni to”

“Iyaa”

Aku termenung sebentar lalu meneruskan pertanyaan ku kepada soib

“Ib, tujuan didakannya acara ini yang bertepatan pada malam tahun baru itu, untuk apa yo ?”

“Pertama untuk meminimalisir kegiatan santri yang melanggar syari’at. Seperti yang kita ketahui kan bahwasanya diluar sana dalam merayakan malam tahun baru itu sampai berlebihan. Sampai ada yang melanggar syari’at mungkin kamu juga sudah tahu”.

“Ooohh. iyo yo ib. terus apa ib selanjutnya ?”.

“Kedua untuk menjalin silaturahmi dan keakraban diantara santri. disini kita bareng sama teman-teman kamar dan kegiatannya pun dilingkungan sendiri.”

“Oke ib. aku setuju. Gimana kang anwar, sampean setuju kan”

“Wah. aku Sangat setuju apa yang dikatakan soib tadi”.

Malam semakin larut, suara letusan kembang apipun sudah mulai terdengar. Kami bergegas kembali kekamar masing-masing dengan harapan semoga diawal tahun baru ini kehidupan lebih berkwalitas dari tahun sebelumnya. Aku siapkan bantal, selimut, dan kasur lalu kurebahkan badan ini dengan hamparan kehangatan yang sudah aku lakukan - (Lukim).

Sabtu, 17 Desember 2016

Launching Buku Madrasah Diniyyah Kelas Rabi'

Rafii


YOGYAKARTA - Jum’at  (16/12), Madrasah Diniyah Salafiyah IV Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L mengadakan Launching Buku dan Khataman Kitab Mutamimmah Jurumiyyah karangan Syeikh Abdulloh Bin Ahmad Al Faqihi. Acara ini bertempat di Mushola Al-Mubarok PP Al Munawwir Komplek L yang dihadiri oleh santri kelas IV Madrasah Diniyah dan beberapa perwakilan dari ustadz yang lain. Dalam acara ini, wali kelas sudah mengundang pemateri yaitu Muhammad Kholiq As-Su’udi yang berasal dari Kota Riyad Arab Saudi, tetapi beliau belum bisa hadir.



Andi Kholilulloh sebagai Wali Kelas Madrasah Diniyyah kelas IV mengungkapkan, launcing buku gramatika arab “Rabi’ ” ini adalah buku yang menjelaskan seputar ilmu nawhu dan shorof. untuk nama buku sendiri diambil dari dua analisis. (1) yang pertama dari nama kelas sendiri yaitu rabi’. (2) yang ke dua tentang konten atau isi bukunya diambil dari empat aspek diantaranya:  (a) aspek yang pertama tentang tematik (istilah). (b)  kedua adalah tokoh ulama ilmu nahwu dan shorof dari segi biografinya meliputi siapa saja pengarangnya dan dalam isinya tercantum lima tokoh ulama nahwu dan shorof. (c) ketiga adalah tentang materi kajian dari segi  ilmu nahwu shorofnya. Dan (d) yang terakhir ialah i’roban dalam kalimat berbahasa arab. Dari ke empat aspek tersebut buku ini resmi  dinamakan gramatikal bahasa arab “rabi’ ”.

Dalam menyusun buku ini, diawali oleh keinginan santri kelas IV dan wali kelasnya untuk membuat sebuah karya. Karya buku ini merupakan yang kedua dari semester pertama tahun ini dan sudah diniatkan untuk membuat karya yang ketiga yaitu pada semester dua kelas IV Madrasah Diniyah Salafiyah PP Al-Munawwir Komplek L. Mas Andi menambahkan  bahwa “Sebetulnya buku ini dibuat dari kita untuk kita dan tidak diniatkan untuk dikomersilkan atau diperjual belikan. Tetapi, jika memang ada satu pihak yang ingin membuat dan ingin memilikinya silahkan saja langsung hubungi saya langsung”.

 
Muhammad Arif Nanang Kosim atau sering akrab disapa Mas Nanang, selaku Ketua Pengurus Madrasah Diniyah Salafiah Komplek L menanggapi bahwa “saya sangat mengapresiasi dengan adanya launcing buku ini sebagai kreatifitas dari kelas roobi’ atas dukungan wali kelasnya sendiri. Dan emang sangat mendukung dalam intelektual biar tercipta suasana intelektual dikalangan pesantren.” Ia berharap dengan adanya buku ini bisa membantu teman-teman semua yang ada di pondok ini khususnya kelas roobi’ supaya bisa bermanfaat dalam memahami ilmu nahwu dan shorof. (Lukim)

Rabu, 07 Desember 2016

Komplek L, Majlis Maulid Nabi Sudah Dimulai di Blok Ndalem Atas

Rafii


YOGYAKARTA - Senin (5/12), Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L telah mengadakan majlis maulid nabi yang dimulai dari bloknya masing-masing.  Dari delapan blok yang ada, baru dimulai di blok Ndalem Atas yang tepat berada diatas rumah romo yai sendiri. Acara ini sudah menjadi agenda pengurus dalam satu periode untuk mengaakan acara maulid tersebut. 
 Jumlah jamaah yang hadir sekitar 20 orang yang terkumpul dari tiga kamar. Majlis ini juga sudah dimulai dari hari kemarin tepatnya pada tanggal (4/12) dan akan terus diadakan setiap hari sampai pada tanggal puncaknya yaitu tanggal (12/12) yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal sebagai tanggal lahirnya Nabi Muhammad SAW. Acaranya cukup meriah dan berjalan lancer dengan penuh khidmat karena merasakan kenikmatan dari bacaan yang mereka lantunkan.
Ada empat kitab yang dipakai untuk mengisi acara ini diantaranya kitab Al-Barzanji, Simtu Ad-Duror, Burdah, dan kitab Ad-Diba’i. Dua hari acara berlangsung baru kitab Ad-Diba’i karangan Imam Jalil ‘Abdurrohman Ad-Diba’i sebagai pedomannya dan akan terus bergilir sampai tanggal 12/12 yang telah di agendakan.
Azhar Annas, selaku santri dan ketua pengurus blok mengatakan bahwa acara ini akan terus berlangsung sampai puncaknya dan semoga dengan adanya acara ini semua santri bisa mengetahui sejarah Nabi Muhammad SAW sebagai panutan kehidupan untuk umat manusia. Ia juga menambahkan dengan membaca kitab-kitab tersebut semoga kita deberikan kenikmatan hidup di dunia dan akhirat. (Lukim).